Mengenal 6 Fungsi Raspberry Pi



Raspberry Pi (RPi) merupakan sebuah komputer mini ukuran saku. Awalnya ditujukan untuk kepentingan edukasi, komputer saku ini lambat laun populer di dunia karena harganya yang murah dan kelengkapan port masukan/keluarannya.
Ditenagai oleh Raspbian OS sebagai sistem operasi utama. Meskipun demikian, Raspberry Pi juga mendukung sistem operasi lain, seperti Ubuntu Core, Ubuntu MATE, Pirate OS, OSMC, RISC OS, Windows 10 IOT dan banyak lagi.
Raspberry Pi bisa menjadi perangkat yang sesuai dengan keinginan penggunanya, yang beberapa di antaranya seperti ulasan berikut:

1. Sebagai Komputer Desktop Mini
Kemampuan Raspberry Pi generasi awal memang masih belum begitu baik. Maklum, Raspberry Pi generasi awal hanya dilengkapi dengan RAM 256MB (lalu menjadi 512MB) serta CPU berinti tunggal (single-core).
Namun, masuknya Rapsberry Pi generasi 2 ke pasaran (RPi 2), telah mengubah semuanya. Raspberry Pi 2 sendiri dilengkapi dengan CPU empat inti, RAM 1GB, serta clock speed 900 MHz. Juga tersedia empat buah port USB.
Kini kita bisa melakukan penjelajahan web atau menyunting naskah di Raspberry Pi 2 layaknya menggunakan komputer desktop. Tentu respons Raspberry Pi 2 (meskipun sudah lebih baik dibandingkan Raspberry Pi generasi sebelumnya) belum bisa menyamai komputer desktop berbasis CPU Intel.
Namun, kecilnya ukuran dan rendahnya daya yang dipakainya merupakan daya tarik tersendiri bagi pengguna yang mementingkan kepraktisan, kecilnya penggunaan daya, serta kesenyapan.
Raspberry Pi memang lebih senyap dibandingkan komputer desktop yang kita pakai di rumah. Ini karena Raspberry Pi tidak memiliki bagian yang bergerak seperti kipas atau motor penggerak harddisk.

2. Sebagai File Server
Generasi Raspberry Pi apa pun baik pertama maupun kedua, akan bisa difungsikan sebagai file server dengan pengaturan yang tepat. Berbasis Samba, kita bisa memanfaatkan aneka harddisk eksternal (yang dihubungkan ke Raspberry Pi via port USB) untuk menjadi media penyimpan data.
Kita bisa berbagi file film, dokumen, musik, atau foto dengan sesama pengguna lain di rumah atau di kantor. Ini membuat kita seolah-olah memiliki file server atau NAS sendiri.

3. Sebagai Download Server
Selain sebagai file server, Raspberry Pi 1 dan 2 juga bisa kita pakai sebagai download server. Download server ini merupakan mesin yang akan terhubung ke jaringan Torrent menggunakan aplikasi Transmission atau Deluge tanpa layar monitor dan keyboard (headless configuration).
Karena hanya menggunakan daya yang kecil (di bawah 9 watt dengan powered harddisk eksternal), kita bisa menghidupkan Raspberry Pi selama 7 hari seminggu 24 jam sehari tanpa harus mematikannya. Untuk mencegah CPU, chip LAN, dan regulator daya kepanasan, kita bisa menambahkan pendingin di atas ketiga komponen tersebut.
Pengontrolan dan pengelolaan file yang akan didownload pada Raspberry Pi ini bisa dilakukan via web. Kita cukup mengakses alamat web Transmission itu menggunakan browser, baik via komputer desktop maupun via smartphone atau komputer tablet.
Kita bisa mengatur agar hasil download itu diletakkan pada harddisk yang di-sharing pada file server (di poin kedua di atas) sehingga saat proses download selesai, kita bisa menikmati hasil download ini secara langsung via jaringan.

4. Sebagai Access Point
Dengan menancapkan sebuah adapter Wi-Fi yang kompatibel dengan Raspbian, kita bisa mengubah Raspberry Pi menjadi sebuah access point. Untuk melakukan ini, diperlukan penambahan aplikasi seperti hostapd dan dhcp server.
Hostapd merupakan aplikasi server untuk mengelola adapter Wi-Fi yang akan berfungsi sebagai access point dan sekaligus melakukan proses validasi terhadap permintaan koneksi dari klien yang akan terhubung kepadanya. Sementara dhcp server bertugas menyediakan alamat IP yang akan dipakai oleh klien setelah proses validasinya berhasil dilakukan oleh hostapd.
Jika dikonfigurasi dengan baik, access point Raspberry Pi ini akan berlaku layaknya access point buatan pabrik. Kita bisa mengatur apakah SSID access point ini akan ditampilkan atau akan disembunyikan (hidden). Kita juga bisa mengatur pada kanal berapa sinyal Wi-Fi ini akan dipancarkan. Tentunya, semua proses konfigurasi ini dilakukan dengan mengandalkan terminal yang berbasis teks.

5. Sebagai Server DNS
Jika kita merasa sebal dengan kinerja server DNS ISP yang lambat, kita bisa memasang sendiri server DNS pada Raspberry Pi. Tentunya, server DNS ini hanya berfungsi sebagai caching yang akan menampung semua informai DNS dari server DNS yang memiliki otoritas untuk menjawab semua pertanyaan (query) domain.
Namun demikian, keberadaan server DNS ini dalam jaringan lokal bisa mengurangi permintaan ke luar jaringan. Kita pun bisa memasang sendiri file pemblokir domain iklan dalam jaringan agar aneka iklan yang mengganggu akan terblokir secara otomatis.
Aplikasi yang bisa dipakai untuk keperluan ini misalnya BIND 9 atau djbdns. Kita bisa memilih aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita untuk mengelolanya. Penulis sendiri telah mencoba menggunakan BIND 9 pada Raspberry Pi 1 dengan RAM hanya 256MB. Sejauh ini, hasilnya cukup baik.

6. Sebagai Multimedia Player
Menggunakan OSMC (sebelumnya Raspmbc) atau OpenElec, kita bisa memanfaatkan Raspberry Pi generasi 1 atau 2 untuk memainkan aneka film, musik, melihat foto, bahkan menjelajahi Youtube dan Facebook via TV lawas kita.
Hal ini dimungkinkan karena Raspberry Pi memiliki port RCA atau A/V yang biasanya tersedia di TV tabung lawas. Dengan demikian, kita bisa menonton aneka film HD atau full-HD di TV lawas kita atau sekadar menjelajahi Facebook dan YouTube tanpa perlu menggunakan komputer lagi. Tentunya, sepanjang koneksi internet tersedia.
Tentunya akan menarik bukan mengubah TV lawas alias jadul menjadi “smart TV” yang tidak kalah dengan smart TV berbasis LCD?
Nah, itulah sebagian kecil dari fungsi-fungsi yang bisa kita dapatkan jika kita menggunakan Raspberry Pi dengan sistem operasi yang tepat. Tentunya masih banyak lagi aneka fungsi lain yang bisa kita dapatkan jika kita memang membutuhkannya. Yang terpenting, diperlukan kemauan untuk melakukan modifikasi dan “pengoprekan” agar si “mungil yang ajaib” ini bisa berfungsi seperti yang kita inginkan.

Komentar